Penulis: Sukamto | Editor: Dwi NR
WONOGIRI | inspirasiline.com
Hujan air bagai hujan emas. Tak hanya petani yang tersenyum, semua penduduk gembira. Anak-anak pun riang menyongsong datangnya musim penghujan.

BEBERAPA hari belakangan, Wonogiri mulai diguyur hujan. Anak-anak, remaja, dewasa, dan terutama petani menyambutnya dengan senyum gembira.
Petani mulai menggarap tegalan, sawah, menanam padi, jagung, kedelai, ketela, hingga kacang tanah. Tak ketinggalan pula, jenis tanaman pala kependhem, kesimpar, gemandhul, dan tanaman karang kitri, seperti pohon turi, lamtorogung, munggur, akasia, jati, mahoni, dan flamboyan.
Saat musim kemarau panjang, penduduk Wonogiri selatan terpaksa selalu membeli air. Dengan turun hujan, kini masyarakat sedikit lega. Telaga, embung, kali, sumur mulai terisi air, walau belum penuh dan terpenting tak lagi membeli air.
Di musim kemarau, Pegunungan Seribu terkesan gersang. Pohon-pohon meranggas.

Setelah turun hujan, pohon-pohon tersebut kini mulai menghijau. Kayu jati mulai bersemi, aneka rerumputan tumbuh segar.
Dampak kemarau panjang, penduduk Wonogiri selatan, termasuk Kecamatan Baturetno terpaksa membeli pakan ternak, berupa katul, rumput kalajana, dan batang jagung, dengan harga sepuluh ribu per unting atau ikat.
Setelah turun hujan, peternak tak lagi membeli pakan. Cukup merumput di tegalan, tanah genangan, atau di lereng Gunung Payung.
Hujan Emas
Hujan air bagai hujan emas. Tak hanya petani yang tersenyum, semua penduduk gembira. Anak-anak pun riang menyongsong datangnya musim penghujan.

Semula penduduk merasakan hawa panas luar biasa. Tapi kini, udara mulai sejuk, bahkan terasa dingin.
Dengan turunnya air hujan, penduduk Wonogiri selatan seperti Kecamatan Baturetno, Giritontro, dan Paranggupita tak lagi membeli air untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Semula penduduk membeli air minum seharga Rp 4.000 per jerigen.
Terlihat mengasikkan, ketika inspirasiline.com mengamati kegembiraan anak-anak bermain, berlarian, mandi di tengah rintik hujan. Melepas baju, bercanda disertai gelak tawa sebagai luapan kegembiraan, dibarengi teriakan, “Hujan, hujan, hujan…”

Ternyata kegembiraan musim penghujan juga dirasakan dunia binatang. Di pagi hari, terdengar burung-burung berkicau, laron mulai keluar dari pundungnya, burung srigunting menyapa mentari, dan katak bernyanyi bersautan.
Semua menambah asri alam semesta, sekaligus menyapa datangnya air dari langit, pertanda musim penghujan tiba.***
