Pertapan Kahyangan Wonogiri, Muasal Panembahan Senopati

INSPIRASIANA
Penulis: Sukamto
Editor: Dwi NR

Tak hanya terkenal karena keindahan alamnya, serta memiliki tempat religi yang ramai dikunjungi, Pertapan Kahyangan adalah jejak sejarah penting muasal Panembahan Senopati.

SEKIRA 30 kilometer arah tenggara Kota Wonogiri, terdapat sebuah pemandangan alam yang amat indah. Hutan heterogen menghijau tumbuh di sepanjang Pegunungan Seribu, lengkap dengan panorama bebatuan berbentuk goa, serta aliran sungai yang amat bening airnya. Saking indahnya, tempat tersebut mendapat julukan Kahyangan.

Konon menurut cerita rakyat setempat, Kahyangan merupakan tempat bertapa Panembahan Senopati, Raja Mataram Yogyakarta yang pertama. Panembahan Senopati adalah putra angkat Sultan Hadiwijoyo, Kerajaan Pajang.

Agar Sutowijoyo kelak dapat menggantikan kedudukan Sultan Hadiwijoyo, oleh Kiai Ageng Pemanahan, dia diperintah untuk bertapa di hutan Pegunungan Seribu.  Sutowijoyo berangkat dari Yogyakarta menuju Parangtritis, terus menyusuri Pantai Selatan.

Pemuda Sutowijoyo berkemauan keras untuk menjadi raja yang menguasai Tanah Jawa. Dia menyusuri Pantai Selatan, menuju Mancingan, dan terus berjalan, hingga akhirnya Sutowijoyo sampai di daerah Kahyangan Tirtomoyo, Wonogiri.

Di tempat inilah Sutowijoyo menjalankan tapa brata, tepatnya berada di dalam Goa Batu Bethek.

Tak jauh dari Batu Bethek, terdapat sepasang batu besar bernama Sela Gapit. Kedua batu ini membentuk gapura alam yang sangat anggun.

Kurang lebih 50 meter dari Sela Gapit terdapat Goa Sela Payung. Goa ini terbilang ajaib, memiliki keanehan. Ruang goa kelihatan sempit, namun jika dimasuki orang, berapa pun tetap tertampung. Banyak lagi batu-batu unik, seperti Batu Kambang, Gawok, dan Bolot. Selain aneka goa, di tempat ini juga terdapat tempat ibadah.

ILUSTRASI Sutowijoyo (Panembahan Senopati) dan Nyai Roro Kidu memadu kasih.

Bertemu Nyai Roro Kidul
Konon ceritanya, ketika Sutowijoyo sedang bersemedi di atas Batu Apung, datanglah perempuan jelita, berambut panjang, hitam legam terurai. Wanita ini adalah Ratu Pantai Selatan, atau Nyai Roro Kidul.

Ketampanan dan kegagahan Sutowijoyo ternyata mampu menawan hati Nyai Roro Kidul. Keduanya saling jatuh cinta, akhirnya terjadilah perkawinan rahasia.

Mulai saat itulah Ratu Pantai Selatan bersedia membantu Sutowijoyo untuk mendapatkan wahyu keraton, dengan membabat Hutan Mentaok untuk dijadikan kerajaan, dengan perjanjian agar semua keturunan Kerajaan Mataram bersedia menjadi suami Nyai Roro Kidul. Perjanjian disepakati bersama.

Satu hari, ketika Sutowijoyo sedang memadu cinta kasih dengan istrinya di atas Batu Apung, datanglah abdi kinasih bernama Nyai Panuju. Ternyata kedatangannya membuat kaget Nyai Roro Kidul. Secara spontan, dia melepaskan diri dari pangkuan suaminya, dengan sempat menggaet tasbih yang biasa digunakan zikir. Tasbih Sutowijoyo putus, butir tasbih berpencar jatuh di tengah kedung Batu Apung.

Sutowijoyo bersabda, “Siapa yang menemukan butir tasbihku, kelak akan menjadi orang yang teguh imannya”.

Menurut cerita diyakini bahwa tasbih yang terpencar tersebut telah berubah menjadi batu permata yang beraneka ragam warnanya.

Konon batu tersebut menjadi bahan permata serta akik. Banyak orang lain daerah datang untuk membeli batu akik produk Dlepih, Kahyangan, sebagai hiasan, sekaligus piandel dirinya.

Raja Mataram
Tiba saatnya Sutowijoyo kembali ke Yogyakarta. Apa yang dicita-citakan telah berhasil. Dia menjadi Raja Mataram Yogyakarta yang pertama, yang paling berpengaruh di Tanah Jawa, dengan sebutan Panembahan Senopati.

Cinta Sutowijoyo kepada istrinya terus terjalin indah. Satu saat keduanya bertemu mesra di Pertapan Kahyangan. Untuk menjaga pertapaan tersebut selalu bersih, ditunjuk Dahyang Yudononggo sebagai juru kunci pertapan. Di tempat itu tersimpan beberapa payung Kerajaan Mataram Yogyakarta yang bernilai sejarah. Di sini pula Nyai Panuju, abdi kinasih Panembahan Senopati meninggal.

Kahyangan terkenal karena keindahan alamnya, juga tempat religi yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Biasanya pada Bulan Suro, Kahyangan ramai pengunjung. Namun dampak dari pandemi Covid-19, Kahyangan kelihatan tak seperti biasanya. Sepi pengunjung.***

BATU Selo Payung Pertapan Kahyangan, Tirtomoyo, Wonogiri.
Bagikan ke:
baca juga:  BLK Komunitas Yayasan Muhdir Cetak Tenaga Siap Kerja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *