Pekarangan Tergenang, Warga Keluhkan Proyek TPST Manding

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com

TEMPAT Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sragen didikeluhkan warga sekitar. Pasalnya, setelah ada proyek TPST, pekarangan warga tergenang air yang mampet gara-gara tidak ada gorong-gorong dan pagar pembatas rumah warga.

Sainem (64), warga Cantel Kulon RT 04/RW 23, Sragen Kulon mengatakan, dulu sebelum ada proyek TPST, lingkungan halaman rumah kering. Namun setelah ada proyek, kebun miliknya jadi tergenang air luapan dari lahan proyek TPST, karena mampet, air tidak mengalir ke parit.

“Kemarin saat hujan deras hingga setinggi lutut, pohon pisang saya mulai mati karena terendam air,” tutur Sainem ketika ditemui inspirasiline.com di rumahnya, Rabu (30/12/2020).

PAPAN proyek Pembangunan TPST Manding yang dinilai gagal dan banyak dikeluhkan warga.

Sainem bahkan sudah lapor ke Ketua RT 04, perihal air yang meluap ke kebunnya hingga bibir pintu rumahnya.

Kulo nggih mpun lapor kaleh Pak RT 04 Muryanto, ning dereng ditindaklanjuti. Kulo mboten wantun lapor kaleh pihak proyek. Kulo lapor Pak RT 04 mawon… (Saya sudah lapor Pak RT 04 Muryanto, tapi belum ditindaklanjuti. Saya tidak berani lapor ke pihak proyek. Saya lapor Pak RT saja…” ungkap Sainem.

Sayem (73), warga Cantel Kulon RT 04/RW 23, Sragen Kulon, yang sakit lumpuh merasa terganggu dengan adanya proyek TPST.

Selain bau sampah, dapur Sayem tergenang air dari proyek tersebut. Airnya mbabek masuk ke halaman rumah hingga lantai tanah dapur basah. Kalau malam berisik dengan suara kodok. Saat hujan deras tiba, air langsung meluap ke perkarangan.

“Sebelumnya tidak ada air menggenangi halaman rumah. Yang terparah halaman milik Sainem dan rumah saya,” keluh Sayem.

Semakin Rusak
Sugiman (83), warga setempat mengatakan bahwa adanya proyek TPST, lingkungan tidak semakin indah tapi justru semakin rusak. Sebab, batas tanah miliknya dengan proyek tidak ada pagar maupun gorong-gorong untuk mengatur aliran air supaya mengalir dan tidak meluap ke halaman milik warga. Menurutnya, ini sangat merugikan warga.

Sugiman minta pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen segera membuat pagar dan gorong-gorong agar air tidak meluap ke halaman rumah warga.

Proyek TPST senilai Rp 810 juta dari DLH Sragen ini, pendataan lingkungannya amburadul dan dikerjakan asal-asalan.

Meski di bawah DLH, namun proyek TPST tersebut terlihat semrawut, tidak tertata rapi, bahkan warga sekitar mengeluh adanya drainase air yang mampet menggenangi halaman rumah warga.

“Ini bukti bahwa proyek TPST Manding gagal, ” tegasnya.

Semestinya proyek TPST berdampak baik untuk lingkungan hidup warga sekitar. Sebaliknya, yang terjadi justru warga kena dampak buruknya drainase proyek tersebut. Warga menjadi dirugikan.

Kepala DLH Sragen Syamsuri yang hendak dikonfirmasi inspirasiline.com tidak berada di tempat. Sekretaris DLH Sragen Sugeng juga tidak berada di kantor.

“Pak Kepala rapat di Pendopo Rumah Dinas Bupati, sedangkan Pak Sugeng (Sekretaris) keluar. Tapi saya tidak tahu, ke mana,” jelas salah satu staf DLH Sragen yang minta namanya dirahasiakan.

Terpisah, Pengurus Formas Sragen Sri Wahono menyayangkan proyek DLH tersebut.

“Alih-alih memberikan manfaat pada warga sekitar, ini justru menyengsarakan. DLH harus bertanggung jawab. Proyek itu sudah menjadi sorotan publik. Selain pekerjaannya amburadul, penyelesaiannya molor,” tandasnya.***

Bagikan ke:

1 thought on “Pekarangan Tergenang, Warga Keluhkan Proyek TPST Manding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *