Cangkul Sawah, Warga Plupuh-Sragen Nemu Stempel Kuno

INSPIRASIANA
Penulis: Sugimin
Editor: Dwi NR
Sebuah stempel kuno yang diperkirakan pernah berlaku di Kasunanan Surakarta saat Paku Buwono XI berkuasa, ditemukan terkubur di area persawahan di Dukuh Kedungdowo, Desa Somomorodukuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.

STEMPEL berbentuk lingkaran dan terbuat dari campuran perunggu dan perak itu memiliki berat sekitar 250 gram dengan diameter sekitar 4 cm. Pada stempel itu tertera tulisan “Djatibatoer Ku Gemolong Son” yang dicetak dalam posisi terbalik seperti stempel pada umumnya.

Pada stempel itu juga tertera gambar mahkota raja, yang identik dengan mahkota raja pada logo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

“Stempel ini ditemukan mertua saya saat mencangkul di sawah, beberapa waktu lalu. Semula mertua saya mengira itu koin kuno, dia lalu membawa pulang. Sesampainya di rumah, benda itu dibersihkan hingga tulisan di permukaannya itu bisa terbaca,” tutur Arif Budiman (36), saat berbincang dengan Inspirasiline.com di rumahnya, Rabu (14/10/2020) siang.

Arif yang memiliki ketertarikan pada cerita sejarah, berusaha mencari tahu asal-usul stempel kuno itu. Namun, Arif merasa kesulitan untuk mengungkap cerita di balik stempel kuno itu secara utuh.

Desa di Gemolong
“Djatibatoer” sendiri merupakan ejaan lama dari Jatibatur yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Gemolong. Kebetulan, Desa Jatibatur berada tak jauh (bertetanggaan) dari Desa Somomorodukuh yang menjadi tempat tinggalnya. Sementara kata “su” dan “son”, katanya, merupakan frasa dalam bahasa Jepang.

“Logo mahkota itu lebih mirip logo keraton pada masa Paku Buwono XI (berkuasa pada 1939-1945). Masa pendudukan Jepang di Indonesia sendiri terjadi pada tahun 1942-1945. Jadi, bisa jadi stempel itu dibuat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, yang bertepatan saat PB XI berkuasa,” ujarnya.

baca juga:  Sadranan, Wujud Kearifan Lokal Warga Bandengan

Arif masih menyimpan stempel itu di rumahnya di Dukuh Kedungdowo, Desa Somomorodukuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.

“Tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang juga menyimpan stempel kuno sejenis,” duganya.

Arif berharap bisa menambah wawasan terkait sejarah di balik cerita stempel kuno itu secara utuh. “Kalau ada pemilik stempel sejenis, malah bisa diajak bertukar wawasan. Kegunaan stempel kuno pada masa lalu itu untuk apa dan siapa yang membuatnya, sampai sekarang belum terungkap,” bebernya.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *