Langkah Pemkot Tegal Ubah Sampah Jadi Berkah

INOVASI

Penulis: Abiet Sabariang | Editor: Dwi NR
TEGAL | inspirasiline.com

Dalam waktu dekat Kota Tegal akan memiliki mesin daur ulang sampah. Di samping untuk pemanfaatan yang lain, juga bisa mengurangi tumpukan sampah di TPA.

SAMPAI kapan sampah tidak lagi menjadi masalah, terutama di kota-kota besar di Indonesia?

Tentu jawabannya akan terus berkelanjutan jika penanganannya masih bersifat konvensional. Hanya mengandalkan open dumping atau sembarangan tidak pada tempatnya. Atau hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir sampah (TPAS). Sementara lahan yang digunakan untuk TPAS sangatlah terbatas.

Kita masih ingat persoalan sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, yang menjadi sorotan dunia internasional sebagai TPA terbesar. Tata pengelolaan sampah inilah yang dijadikan isu oleh YYADUL pada program webinar kedua, Selasa (1/12/2020).

Mengusung tema “Apakah TPA tanpa Sampah Plastik di Indonesia Dapat Dicapai dengan Adanya Larangan Plastik Sekali Pakai,”  webinar kedua ini menghadirkan narasumber Wakil Wali Kota Tegal Muhamad Jumadi.

Jumadi mengatakan, masalah penanganan sampah memang menjadi problem jika belum ditemukan cara yang tepat.

“Memandang sampah jangan hanya dari sisi negatif atau sebagai sumber penyakit dan aroma yang tidak sedap. Kita harus mengubah pikiran kita, yang negatif menjadi positif. Bagaimana mengolah sampah menjadi bernilai ekonomis,” ungkapnya.

Bernilai Jual
Jadi, menurut Jumadi, pelarangan soal sampah plastik tidak terlalu penting, tapi bagaimana sampah-sampah plastik menjadi sebuah produk yang punya nilai jual. Contoh yang telah dilakukan Pemkot, jalan di sekitar Balai Kota Tegal pengaspalannya menggunakan bahan dari daur ulang plastik kresek.

Banyak lagi hasil kerajinan dari UKM yang memanfaatkan kertas koran menjadi sepatu dan barang hiasan lainnya.

Jumadi menjelaskan, produksi sampah di Kota Tegal mencapai 250 ton per hari dan yang bisa dimanfaatkan baru 30 ton, termasuk untuk pembuatan kompos dan sisanya dibuang ke TPA.

Dalam waktu dekat Kota Tegal akan memiliki mesin daur ulang sampah. Di samping untuk pemanfaatan yang lain, juga bisa mengurangi tumpukan sampah di TPA.

Jumadi membeberkan, di Kota Tegal terdapat pula 214 ton, terdapat pula timbunan sampah di TPA , serta 16 ton volume sampah anorganik.

“Dari jumlah tersebut, yang mampu dikirim di industri daur ulang baru 10 persen dan sisanya berakhir di TPA,” ujar Wakil Wali Kota yang berpenampilan nyentrik ini.

Jumadi berharap, budaya membuang sampah yang berakhir di TPA harus ditinggalkan. Sebaliknya, harus mencari inovasi mengolah limbah sampah menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomis.

Mendasari Pasal 18 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah dan Lingkungan, Pemkot Tegal di bawah kepemimpinan Dedy Yon Supriyono dan Muhamad Jumadi tetap konsisten pada pengelolaan sampah dan lingkungan hidup. Mulai dari pengelolaan sampah di 21 TPS, yakni dengan menerapkan tiga prinsip 3R: reduce, reuse, recyle.

Bersinergi
Terkait hal itu, Pemkot Tegal akan bersinergi dengan lembaga terkait untuk mengolah sampah plastik, yang akhirnya menjadi bentuk briket maupun bentuk lain yang punya nilai jual.

Dalam kesempatan webinar, Direktur Kemasan Group Wahyudi Sulistiyo mengatakan bahwa membahas sampah tak boleh sebatas pada sampah rumah tangga saja. Sebab, ribuan pabrik di Indonesia juga penyumbang berbagai jenis sampah.

Dia mengaku, pihaknya menerima 600 ton sampah per bulan, dan yang bisa diolah hanya 259 ton.

“Sampah yang tidak bisa didaur ulang, seperti bekas bungkus jajanan moderen. Sampah-sampah jenis ini tidak bisa didaur ulang, yang akhirnya menjadi residu yang akan menumpuk di TPA. Inilah yang harus dicari solusinya,” papar Wahyudi.

Padahal, menurutnya, limbah sampah dari Indonesia harganya tergolong mahal dibanding sampah impor. “Ini kenapa?” ungkapnya, bertanya.

Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Prispoly Lengkong, yang sehari-harinya bergelut di bidang limbah sampah mengatakan, peran pemulung sangat penting dalam menjaga ekosistem lingkungan.

“Namun, terlepas dari peranan pemulung, pemerintah pun harus mencari solusi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh residu limbah sampah,” tuturnya.

Prispoly Lengkong menjelaskan, anggota IPI saat ini tercatat 4,7 juta. Dari hasil rakernas IPI tahun 2018, salah satu yang diprioritaskan adalah tingkat kesejahteraan anggota IPI supaya tetap terjaga, tidak malah tergusur oleh teknologi pemanfaatan limbah sampah.

Webinar seputar problematika sampah ini akan berlanjut hingga sepuluh kali ke depan, dengan tema yang berbeda.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *