Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
BANJIR melanda delapan desa di wilayah Kecamatan Sidoharjo, Sragen Kota, dan Masaran, lantaran luapan tiga sungai, yakni Sungai Bengawan Solo, Sungai Mungkung, dan Sungai Grompol.
Air luapan tiga sungai itu menggenangi 120 hektare lahan pertanian, satu rumah, dan jalan-jalan kampung di Sragen.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono menyampaikan, hingga Jumat (5/2/2021) kondisi air sebagian belum surut.
Sugeng menjelaskan, peristiwa meluapnya tiga sungai itu terjadi pada Kamis (4/2/2021) malam, sekitar pukul 20.00. Air terus naik ditambah guyuran hujan dengan intensitas cukup tinggi di seputaran Soloraya dalam durasi yang lama.
Air hujan masuk ke Bengawan Solo dengan ketinggian air sampai permukaan. Akibatnya, air Bengawan Solo meluap. Kemudian Sungai Mungkung dan Sungai Grompol yang bermuara di Bengawan Solo pun akhirnya membalik, karena Bengawan Solo penuh.
“Dampaknya air juga meluap ke permukinan penduduk. Air menggenangi jalan, lingkungan seputaran rumah warga, dan persawahan dengan ketinggian rata-rata 10-70 cm,” jelasnya.
Dampak Luapan
Sugeng mengatakan, dampak luapan Bengawan Solo terjadi di empat desa, yakni di Desa Patihan, Sribit, Pandak, dan Bentak yang masuk wilayah Kecamatan Sidoharjo.
Di empat desa ini, air menggenangi 90 hektare lahan persawahan dan jalan-jalan kampung di wilayah Dukuh Gebung, Karangmanis, dan permakaman di wilayah Patihan.
Selain itu, Sugeng mengungkapkan, sejumlah permukiman di Dukuh Tambak dan Newung, Desa Sribit juga tergenang, termasuk di Dukuh Ngelo, Pandak dan Dukuh Candi, Bentak.
Kemudian dampak luapan Sungai Mungkung terjadi di wilayah Desa Tangkil, Kecamatan Sragen Kota.
Sugeng menguraikan, luapan Sungai Mungkung itu menggenangi lahan persawahan seluas 5 hektare, satu rumah di Dukuh Tugu, RT 001/RW 012. Termasuk sebagian permukiman.
Lalu dampak luapan Sungai Grompol, terang Sugeng, terjadi di tiga desa di Masaran, yakni Desa Pringanom, Pilang, dan Kliwonan dengan ketinggian air 20-30 cm.
Sugeng menjelaskan, di Pringanom air masuk ke wilayah Dukuh Sari dan Bakung serta menggenangi lahan persawahan seluas 25 hektare. Di Desa Pilang juga tergenang di wilayah Dukuh Kembang, Dukuh Klembon, dan Dukuh Jati.
Sementara di wilayah Kliwonan, air hanya masuk di wilayah Dukuh Bayur.
“Ada satu rumah yang tergenang. Persawahan seluas 120 hektare. Sebagian besar menggenangi area jalan. Kami melakukan pendataan dan sosialisasi kepada warga supaya siaga dalam menghadapi luapan air dari tiga sungai tersebut. Mulai Jumat pukul 03.30, debit air Bengawan Solo mulai naik lagi. Sementara untuk debit air Sungai Mungkung mulai surut sejak pukul 02.30,” ujarnya.***

Localisez via le logiciel système « Find My Mobile » fourni avec le téléphone ou via un logiciel de localisation de numéro de téléphone mobile tiers.