Setruman Tikus Telan 15 Korban, Anggota Dewan Bambang Widyo Purwanto Desak Pemkab Turun Tangan

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com 

JEBAKAN tikus beraliran listrik di Kabupaten Sragen yang terus memakan korban, menuai reaksi keras dari masyarakat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

KETUA DPC Himtani Sragen Suhadi.

Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen dan dinas terkait untuk segera turun tangan mencari solusi yang efektif memberantas tikus.

Solusi diperlukan, agar petani tak nekat memakai listrik yang sudah merenggut 15 nyawa hingga saat ini.

“Mau nunggu sampai minta korban berapa lagi? Ini nyawa, jangan hanya dibiarkan saja. Pemerintah harus segera mengambil langkah yang benar-benar konkret untuk menghentikan tragedi ini,” ungkap anggota DPRD Sragen, Bambang Widyo Purwanto, Kamis (22/4/2021).

Politisi dari Golkar yang dikenal getol membela petani ini mengaku geram dengan ketiadaan tindakan nyata dari dinas terkait dalam hal pemberantasan tikus.

Bambang Widyo Purwanto juga mendesak pemerintah turun ke lapangan untuk menyosialisasikan agar masyarakat bisa sadar atas bahaya setrum jebakan tikus. Dikatakan, sosialisasi tidak hanya pada petani pria, namun juga ibu-ibu atau istri-istri petani agar bisa ikut mengingatkan suaminya jika hendak nekat memasang setrum jebakan tikus.

“Yang meninggal 100 persen petani laki-laki dan pemasangan tersebut mungkin tak satu pun diketahui istri mereka. Makanya, harus ada penyuluhan lewat ibu-ibu, agar mengingatkan suaminya pada saat akan memasang jebakan itu. Bilamana perlu, melaporkan ke yang berwajib,” ujarnya.

Bambang Widyo Purwanto menilai, insiden jebakan tikus beraliran listrik yang sudah merenggut 15 nyawa ini adalah tragedi kemanusiaan di tengah kian sulitnya kondisi petani.

Sebab, selain hama tikus, selama ini petani sudah dihadapkan problem kekurangan pupuk subsidi, hingga harga komoditas yang anjlok saat panen tiba.

“Pemerintah Daerah (Pemda) harus bersinergi dengan TNI-Polri turun ke bawah. Kalau hanya dipercayakan Dinas Pertanian (Dispertan) lewat PPL aja nggak akan menyelesaikan masalah. Seharusnya semua anggota kelompok tani dikumpulkan. Di situ kasih solusi yang aman dan efektif. Kalau perlu diberi bantuan alatnya. Kemudian disampaikan bahayanya jebakan tikus beraliran listrik. Jangan hanya didiamkan, seolah-olah itu kesalahan petani semata,” tegasnya.

baca juga:  Di Desa Gilirejo, Bupati Sragen Yuni Sukowati Pantau Serbuan Vaksinasi

Hal senada dilontarkan tokoh masyarakat Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, S Jadi.

“Di Sukodono, hari ini selain menewaskan satu petani di Desa Newung, juga ada tiga buruh tani perempuan yang kesetrum jebakan tikus di Desa Bendo,” ungkapnya.

S Jadi mendesak Pemkab mencarikan solusi pemberantasan hama tikus yang efektif, agar petani tidak menggunakan setrum listrik lagi. Sebab, mayoritas petani beralasan, terpaksa memakai setrum karena berbagai upaya penanganan tak bisa lagi mengatasi hama tikus.

“Kalau memang gropyokan dianggap efektif, bila perlu diadakan gropyokan tikus massal se-Kabupaten Sragen. Mungkin dengan stimulan upah per ekor Rp 3.000 atau berapa, tapi serentak semua wilayah. Atau dicarikan solusi lain yang lebih aman, jangan dibiarkan saja. Karena bagaimana pun petani punya kontribusi untuk menjaga stabilitas pangan Sragen, sehingga menjadi penyangga pangan Jateng dan nasional,” harap S Jadi.

Terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Masyarakat Tani-Nelayan (DPC Himtani) Sragen Suhadi menyatakan prihatin dengan tragedi setrum jebakan tikus yang terus memakan korban jiwa petani.

“Saya sangat berharap, petani mematuhi pemerintah untuk tidak memasang jebakan tikus beraliran listrik. Sebab, hal itu sangat membahayakan, baik yang memasang maupun orang lain,” ujarnya.

Suhadi mengatakan, pemerintah sudah berulang kali mengimbau petani untuk tidak memasang jebakan tikus beraliran listrik, namun masih saja ada petani yang tidak mengindahkan.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *