Inovasi Kembang Goyang Batik Bidik Peluang Kue Lebaran

KULINER

Penulis: Budhy HP | Editor: Dwi NR
TEMANGGUNG | inspirasiline.com

Kehadiran Kembang Goyang Batik Temanggung ternyata membuat kewalahan sang pembuatnya, hingga harus tutup order pada 30 April 2021, karena sudah ratusan bungkus dipesan.
PROSES produksi kembang goyang biasa dikerjakan bersama seluruh anggota keluarga di rumah.

KUE Lebaran bernama kembang goyang banyak diminati penggemarnya, karena tekstur kriuk dan gurih maupun manis sesuai kesukaan masing-masing. Selain citarasa, penampilan warna juga ikut mempengaruhi daya tariknya.

Oleh karena itu, pembuat kue kembang goyang terus membidik inovasi agar ordernya meningkat. Seperti dilakukan warga Kelurahan Temanggung II, Kabupaten Temanggung, membuat terobosan baru Kembang Goyang Batik.

TAMPILAN kembang goyang ketika ditaruh di piring.

Ketenaran Batik Temanggung menumbuhkan ide pembuat kue kembang goyang untuk menciptakan daya tarik kue Lebaran berkarakter batik. Namanya pun dipublikasikan lewat media sosial (medsos) dengan brand Kembang Goyang Batik.

Sementara di beberapa tempat ada varian nama yang berbeda, di antaranya Kembang Goyang Pelangi, kue antari, kue kethoprak, hingga antari cokelat, hijau, kuning, dan merah.

MENGGORENG kembang goyang harus teliti dan jeli melihat kematangannya.

Kehadiran Kembang Goyang Batik Temanggung ternyata membuat kewalahan sang pembuatnya, hingga harus tutup order pada 30 April 2021, karena sudah ratusan bungkus dipesan.

Wiwik Wastiati yang akrab disapa Bu Koen, merupakan generasi yang masih mengabadikan tradisi membuat kue kembang goyang. Meskipun berasal dari tradisional khas Betawi, tapi kue ini di Temanggung banyak diminati.

Sebelum terjadi perkembangan formula resep, kembang goyang bertekstur atos, sehingga diberi nama kethoprak, karena kalau dimakan mengeluarkan bunyi “kropyak” di dalam mulut akibat dari kerasnya kue. Bahkan sering juga disebut Rodha Dhokar. Namun sekarang sudah kriuk, empuk, gurih, maupun manis dengan varian batik.

Seperti namanya, camilan ini berbentuk bunga. Ada sematan kata “goyang”, mengacu pada proses pembuatannya. Sebab, ketika digoreng, cetakan kembang goyang yang berisi adonan harus digoyang-goyangkan di minyak panas. Hal ini bertujuan agar adonan terlepas dari cetakan yang terbuat dari besi atau alumunium. Cetakan ini dapat dibeli di pasar tradisional atau e-commerce.

Di beberapa tempat, kue ini pun mengalami penambahan varian rasa. Beberapa tetes essens frambozen, essens pandan, dan biji wijen sebagai variasi rasa, hingga penambahan warna membuat penampilan menarik dihidangkan di toples bening.

Apalagi pewarna makanan kini juga hadir dengan beragam pilihan warna, yang bikin makanan terlihat makin menggiurkan.

Untuk membuat kembang goyang, cukup sediakan bahan: 200 gram tepung terigu dan tapioka, 50 gram gula pasir halus, 1 butir telur, 1 buah kuning telur, 1/2 sendok teh garam, 250 ml santan dari 1/2 butir kelapa, 1 sendok makan wijen putih, dan 500 ml minyak untuk menggoreng.

Cara membuatnya, campur tepung terigu dan tapioka, gula pasir, telur, dan garam. Tuangkan santan dan aduk sampai kalis. Masukkan pewarna, panaskan cetakan kembang goyang dalam minyak yang sudah dipanaskan. Kemudian celup cetakan ke adonan, angkat dan masukkan dalam penggorengan selama beberapa menit hingga kue terlepas dari cetakannya.

Untuk membuat tekstur batik, dapat digunakan berbagai pewarna makanan seperti Koepoe Koepoe, Cross, Hakiki, Americolor, dan Pasta Red Bell. Pembaca yang suka kembang goyang, selamat mencoba.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *