Penulis: Yokanan | Editor: Dwi NR
BLORA | inspirasiline.com
RATUSAN warga yang menjadi korban arisan online menggeruduk rumah salah satu member sekaligus pengepul arisan online di Desa Doplang, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (19/8/2021). Total kerugian korban mencapai Rp 55 miliar, dengan besaran variatif, mulai Rp 2 juta hingga Rp 1,5 miliar.
Salah satu korban, Lia Daniati mengaku sudah mengeluarkan uang Rp 23 juta. Sudah tujuh kali transaksi. Namun untuk bulan ini belum keluar.
Dia mulai ikut arian online sejak 31 Mei lalu, dengan mengeluarkan uang total Rp 23 juta. Pertama, ikut arisan Rp 4,5 juta dan dapat Rp 5 juta. Bulan berikutnya, ikut lagi Rp 4,5 juta dan dapat Rp 6 juta. Satu pekan berikutnya ikut lagi Rp 3,5 juta dan dapat Rp 5 juta, hingga 10 Agustus lalu masih lancar.


Namun untuk arisan berikutnya, tidak ada kabar. Sampai ada kejadian penggerudukan ini. Apalagi nomor WhatsApp (WA) Dila, member sekaligus pengepul uang arisan online tersebut, sudah tidak aktif lagi.
Akhirnya, dia memutuskan untuk datang ke balai desa dan ikut mengadukan nasibnya seperti korban lain.
”Kenal Mbak Dila sudah lama. Pernah hilang kontak juga. Dia dulu penyanyi. Uang untuk arisan dulu dari suami. Tertarik karena sering nonton statusnya,” ucapnya.
Lia Daniati mengetahui rumah Dila digeruduk dari Facebook (FB).
”Katanya bandarnya (arisan online) orang Cepu. Tapi sudah kabur. Saat lihat FB kok pada ramai. Setelah itu, saya mencoba untuk mengontak Mbak Dila, namun WA-nya sudah tidak aktif. Harapannya ada pertanggungjawaban dan mau mengembalikan uang saya,” pintanya.
Kepala Desa (Kades) Doplang Agus Supriyono membenarkan, memang ada ratusan orang yang datang ke rumah DL untuk mempertanyakan nasib arisan online yang mereka ikuti.
Ada sekitar 150 warga, yang berasal dari Blora, Bojonegoro, dan Grobogan.
Bahkan, sebelum Kepala Desa Doplang Agus Supriyono datang ke lokasi, sudah ada yang membawa barang-barang berharga milik tuan rumah. Sebab, orangnya tidak ada di rumah.
”Untung saja tadi barang yang belum dibawa pulang bisa kami selamatkan. Tidak boleh melakukan penjarahan. Saya beri pengertian. Tidak boleh melakukan hal itu. Alhamdulillah pada nurut,” jelasnya.
Selanjutnya, dia mendata warga yang ikut arisan online tersebut. Total saat di rumah Dila ada sekitar 150-an orang. Ada juga yang datang ke balai desa.
”Tadi saat di rumah (Dila), ada sekitar 150 orang. Ada yang sudah setor Rp 150 juta, Rp 89 juta, Rp 4 juta, Rp 115 juta, bahkan Rp 1,5 miliar. Ada juga yang Rp 1,1 miliar,” jelasnya.
Kades Agus Supriyono menambahkan, rumah Dila yang baru jadi juga dijual dan dibeli orang. Tadi langsung diambil. Dijual Rp 200 juta.
”Karena ada bukti jual-beli, kami putuskan untuk diangkut. Sebab, sudah ada hitam di atas putih. Ada perjanjian jual-beli dan dokumentasinya. Sementara yang lain tidak boleh ambil barang-barang yang ada di rumah,” tegasnya.
Kades Agus Supriyono juga heran, dalam situasi seperti ini, masih ada warga yang pecaya dengan hal-hal arisan yang menjanjikan keuntungan besar. Dinalar saja tidak bakal mungkin. Diinvestasikan ke perusahan mana pun juga tidak bakal mendapat semacam ini.
”Masak arisan Rp 3,5 juta dalam satu bulan bisa dapat Rp 5 juta dan seterusnya,” terangnya.
Dia mengimbau kepada para korban untuk datang ke Balai Desa Doplang dan mengumpulkan KTP, KK, serta bukti transaksi. Jadi, mudah untuk menghitung berapa kerugian dan jumlah korbannya.
”Tadi sudah ada yang ke balai desa juga,” ujarnya.
Pantauan di lapangan, member skeligus pengepul arisan online tersebut bernama Dila, warga RT 14/RW 2, Desa Doplang, Kecamatan Jati, Blora.
Dila memiliki agen orang Kecamatan Cepu. Agen itu, juga dikabarkan kabur.
Dila sendiri tidak ada di rumah. Rumah utamanya juga sudah dibongkar, karena sudah dijual kepada orang seharga Rp 200 juta.
Dila sebelumnya seorang penyanyi. Tinggal bersama suaminya, dua anak, dan ibunya. Setiap hari dia jual kosmetik. Namun di rumah sudah tidak ada dagangannya. Hanya ada beberapa yang ada di kamar pribadi.
Infonya, kemarin malam Dila juga sudah mendatangi Mapolres Blora untuk melapor. Karena merasa ditipu orang Cepu yang menjadi agen alias atasannya.
Sejumlah barang berharga Dila sempat dibawa para korban. Meski ada juga yang terselamatkan. Itulah alasan kepala desa dan aparat berhasil memberikan pengertian kepada para korban arisan online.***
