Problematika Pengkaderan Jadi Pembahasan Rakorwil Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah

NEWS

Magelang-Inspirasiline.com. Majelis Pendidikan Kader Pimpinan (MPK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) dengan Organisasi Otonom Muhammadiyah Tingkat Wilayah Jawa Tengah di Magelang, Sabtu – Minggu 24 – 25 Desember 2022.

Rakorwil MPK PWM Jawa Tengah dilaksanakan di Hotel Citra Kota Magelang Jawa Tengah,  diikuti oleh pengurus MPK PWM Jawa Tengah, Lembaga Otonom Muhammadiyah seperti Aisyiyah, Tapak Suci, Hisbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Ikatan  Mahasiswa Muhammadiyah.

Ketua PWM Jawa Tengah, Tafsir, didampingi para Pembicara menjadi pembicara utama dalam Rakorwil MPK PWM Jateng

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PWM Jawa TengahTengah,  Ketua MPK PWM Jawa Tengah, para Ketua Ortom Muhammadiyah, para Sekretaris dan Bendahara Ortom, serta undangan lainnya.

Ketua MPK PWM Jawa Tengah Sugiyono mengatakan, materi sudah disusun secara terstruktur untuk dibahas dalam Rakorwil MPK Jawa Tengah selama 2 hari di Magelang.

Paparan materi Rakorwil disampaikan pembicara dan ditayangkan di layar proyektor

“Selain beberapa materi yang sudah diagendakan, Rakorwil juga akan spesifik lagi bagaimana upaya pengkaderan di tingkat keluarga, meningkatkan koordinasi internal Ortom maupun antar Ortom dan membentuk kader-kader Muhammadiyah yang memiliki kompetensi dibidangnya”, tandas Sugiyono.

Sementara itu Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir sebagai keynote speak menegaskan bahwa pengkaderan Muhammadiyah tidak cukup berdasarkan aktivitas yang telah dilakukan, tetapi harus memiliki kompetensi yang sesuai bidangnya.

Peserta Rakorwil mengikuti pembahasan materi dalam beberapa sesion selama 3 hari

“Di Muhammadiyah sudah terlalu banyak profesor, doktor dan akademisi, tetapi kita masih kekurangan praktisi. Misalnya, ahli hukum sudah banyak,  tetapi praktisi sebagai pengacara masih sangat sedikit”, ucapnya.

Tafsir juga menegaskan lanjut, kader Muhammadiyah harus memiliki kompetensi kuat, sehingga kader Muhammadiyah harus jelas mau jadi apa, guru yang profesional, pengacara, atau profesi lainnya harus jelas.

“Persolaan yang sering timbul adalah kader tidak kompeten di bidangnya, oleh karena itu sejak awal masuk menjadi kader Muhammadiyah harus memiliki kompetensi yang sesuai”, jelas Tafsir.

baca juga:  Bersama 3 Pilar Desa Gondel, Kapolsek Kedungtuban Sosialisasi Rubuha Untuk Mengendalikan Hama Tikus Sawah

Dalam agenda kegiatan selama 2 hari, diantaranya membahas materi Sistem Perkaderan dalam Keluarga oleh Ustadz Jumari, Sharing Peta Potensi dan Problematika Perkaderan masing-masing Ortom oleh Hammam Sanadi, Ph.D dan Diskusi Perkaderan dan rekomendasi strategis untuk Musywil Muhammadiyah Jawa Tengah oleh Drs. Sugiyono, M.Si. Anisa Huwaeda (19) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) sebagai peserta dari Ikatan Pemuda Muhammadiyah mengatakan, berbagai materi dalam Rakorwil sangat bermanfaat untuk upaya pengkaderan yang akan dilakukan secara berkesinambungan di masing-masing Ortom Muhammadiyah.

Rakorwil dilaksanakan dengan motode komunikasi dua arah, sehingga setiap selesai penyampaian materi oleh pembicara, langsung dibuka tanya jawab serta sharing problematika dari masing-masing Ortom Muhammadiyah Jawa Tengah. (bhp)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *