Wonogiri-Inspirasiline.com. Peserta Didik kelas 5, SD Negeri VI, Baturetno, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, berhasil membuat batik dengan ” teknik blat “.
Menurut Kristian Wibowo, S.Pd. selaku guru kelas, kegiatan tersebut merupakan pratik mata pelajaran Prakarya, bagian dari bidang studi (SBDP).

Tujuan pembelajaran membatik dengan ” teknik blat ” untuk melatih kreatifitas peserta didik agar berpikir lebih kreatif, maju, serta memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi.
Kabupaten Wonogiri memiliki beberapa jenis batik seperti ; batik canthing ( batik tulis ), cap, celup, ciprat , Wonogiren, batik getah pisang ( karya Riska Septian ), Kepala SDN IV Baturetno. ( Juara 1 lomba inovasi tingkat nasional ).
Saat ini SDN Vl Baturetno, mengembangkan jenis ” batik blat “. Menurut penuturan Kristian Wibowo yang sehari-hari disapa( Bowo ) kepada awak media inspirasiline.com, jenis batik tersebut mudah dikerjakan oleh peserta didik tingkat SD. Bahan mudah dicari, pengerjaannya gampang, waktu singkat, biaya murah, hasilnya sangat bermanfaat untuk kepentingan sekolah.

Batik ” teknik blat ” menggunakan bahan ; kain polos putih ( mori ), aneka daun, bungan, dengan ragam bentuk dan warna yang berbeda-beda. Misal, jenis daun bentuk bulat, elip, pita, jari, dsb. Dipilih aneka bentuk dan warna, dikandung maksud untuk menghasilkan nilai artistik pada hasil batik. Bahan lainnya, plastik bening warna putih, batu, atau benda lain sebagai penindih.
Cara kerja, kain putih ( mori ) berukuran 1 meter, ( menurut kepentingan ) diletakkan di atas meja, diusahakan kain dalam keadaan rata. Selanjutnya, bahan batik ( daun/bunga ) tersebut direbus kurang lebih 5 menit. Berikutnya bahan ditaruh di atas kain yang akan dibatik, ditata sesuai selera pembatik, dilapisi dengan plastik bening. Langkah seterusnya , daun/ bunga dipukul pelan-pelan secara merata. Hal tersebut dilakukan agar air, atau getah dalam daun/ bunga meresap ke dalam mori putih. Untuk mempercepat peresapan, diatas daun/ bunga ditindih dengan batu, atau benda lain.
Proses selannyutnya, kita tunggu beberapa hari biar kering. Jika daun/ bunga telah kering, plastik transparan, dan daun/ bungan dilepas secara perlahan- lahan. Jadilah ” batik blat ” dengan motif batik sesuai dengan bentuk, dan warna pada daun/ bunga cetakan.
Langkah selanjutnya, kain putih yang telah dibatik, dengan aneka ragam warna dan variasi, dijemur, atau dianginkan sampai betul-betul kering. Berikutnya, kain batik diseterika, agar kain lebih halus, dan menegaskan warna hasil ” batik blat “.
Semula pelaksanaan membatik teknik blat dilakukan secara berkelompok, satu potong mori ( 1m – 2m ) dikerjajan 5 peserta didik. Setelah berhasil baik, masing- masing peserta didik mengerjakan sendiri – sendiri, dengan ukuran kain yang berbeda, menyesuaikan kebutuhan.
” Kain batik teknik blat, hasil karya peserta didik ini, dapat dibuat taplak meja, tempat koran, saputangan, baju, dsb ” jelas Kristian Wibowo kepada awak media inspirasiline.com.
Sekalah Dasar Negeri VI Baturetno, Wonogiri, dipimpin Siti Zulaicha, S.Pd, kini tak perlu lagi membeli taplak meja, dan sejenisnya, cukup membuat sendiri. Pengembangan lebih lanjut, hasil batik” teknit blat ” akan dipamerkan, dan dijual kepada para wali siswa. (Sukamto/19, nara suber Kristian Wibowo)
