Saintifikasi Warisan Budaya: Konservasi Keris Dalam Perspektif Sains

NEWS

Sragen-Inspirasiline.com.  Upaya Pelestarian Keris Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Terus Diperkuat Melalui Pendekatan Ilmiah Dan Tradisi. Salah satunya diwujudkan dalam Workshop Saintifikasi Warisan Budaya: Konservasi Pusaka yang diselenggarakan di Pendopo Sumonegaran Rumah Dinas Bupati Sragen, Kamis (17/7/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen ini menghadirkan berbagai Narasumber Ahli, Mulai Dari, Empu Keris, Pegiat Budaya, Guru Hingga Puluhan Pelajar Kabupaten Sragen.

Melalui Workshop ini, para peserta tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan tentang konservasi keris, namun juga jamasan teknis oleh para praktisi dan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo serta dari Museum Keris Brojobuwono dari Gondangrejo, Karanganyar.

Kepala Disdikbud Kabupaten Sragen, Prihantomo dalam sambutannya menyampaikan bahwa sertifikasi warisan budaya keris menjadi langkah penting untuk memastikan pelestarian keris dilakukan secara ilmiah dan berkelanjutan.

“Keris bukan hanya pusaka sakral, tetapi juga karya seni dan sains metalurgi tinggi warisan leluhur. Jadi, harus dirawat sebagai budaya, harus dipelihara bukan sebagai sesuatu yang menakutkan menyeramkan bayangan kan begitu ya kalau lihat keris itu menakutkan dan menyeramkan,” Terang Prihantomo.

Ia berharap melalui Workshop saintifikasi warisan budaya ini, persepsi generasi muda khususnya Generasi Z (Gen Z) tentang keris dapat diarahkan ke pelestarian budaya, penghargaan sejarah, dan upaya konservasi yang berbasis ilmu pengetahuan.

Selain Workshop tentang konservasi keris, Prihantomo mengatakan juga ada diklat seni fotografi yang diharapkan dapat mengeksplorasi aktivitas konservasi Keris/ Pusaka sebagai materi karya fotografi.

“Melalui seni media fotografi (salah satu sub sektor industri kreatif) dapat menghantarkan wacana alternatif bahwa warisan tradisi jamasan pusaka sejatinya di era modern adalah pengetahuan tentang konservasi karya budaya berbasis material logam. Tidak berhenti dan terjebak pada stigma kuno, mistis, dan kejumudan intelektual,” Lanjutnya.

Sementara Kabid Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan, menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen melalui Disdikbud ingin mengenalkan warisan budaya Jawa tentang jamasan pusaka keris dari sisi seni estetiknya dan filosofinya serta sains, fisika, kimia dan melaturgi kepada pelajar dan guru.

Dengan menghadirkan guru dan pelajar sebagai peserta lokakarya, Johny berharap mereka dapat mengetahui nilai-nilai sains dalam jamasan keris dan di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan luar biasa. Seperti jamasan yang ternyata melibatkan unsur pengetahuan kimia ketika menggunakan bahan-bahan untuk membersihkan logam.

Dalam jamasan keris itu, lebih lanjut Johny bisa mengetahui tentang material logam-logam yang termuat dalam metalurgi.

“Bagaimana reaksi kimia bahan dengan logam ketika prosesi jamasan. Kegiatan ini dipadukan dengan diklat fotografi yang juga menghadirkan narasumber dari ISI Surkarta. Harapannya diklat fotografi dapat mengambil materi objek dari prosesi konservasi keris. Hasilnya bisa dipublikasikan. Jamasan keris jangan dihakimi sebagai hal yang klenik dan irasional,” Jelas Johny.

Johny menegaskan bahwa generasi sekarang perlu memahami keris sebagai warisan budaya, bukan semata-mata mata benda mistis.

“Keris memang memiliki nilai spiritual dan filosofi yang mendalam, tetapi kita harus menekankan kepada generasi muda bahwa keris adalah karya seni budaya dan teknologi metalurgi tinggi pada masanya. Jangan sampai keris hanya dipersepsikan sebagai benda mistis, padahal ia adalah simbol kebijaksanaan, keberanian, dan identitas budaya yang harus kita lestarikan bersama,” Ujarnya. (Sugimin/17-Release Diskominfo Sragen)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *