GROBOGAN (inspirasiline.com) Ketika langit menolak menangis dan bumi mulai retak, ketika sumur-sumur mengering dan embun pun enggan singgah, di sanalah kemanusiaan diuji.
Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Grobogan memilih untuk tidak diam di balik meja diskusi. Mereka bergerak. Menghadirkan apa yang paling dirindukan warga di musim kemarau panjang ini: air bersih.

Dusun Ngrandu, Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan menjadi prolog dari perjalanan kemanusiaan ini. Dua tangki air bersih tumpah di sana, disambut wajah-wajah lega yang telah lama menanti. Perjalanan berlanjut ke Desa Monggot, Kecamatan Geyer, dan terus merembet hingga desa-desa di Kecamatan Gubug. Masing-masing dusun menerima dua tangki kehidupan.
Bukan tentang jumlah liter. Ini tentang kehadiran negara di sudut-sudut yang kerap terlupakan.
Ketua FKDM Kabupaten Grobogan, Pujiyanto, menuturkan dengan lugas, kegiatan ini adalah manifestasi dari intelektualitas yang membumi.
“FKDM lahir dari rahim kepedulian. Tugas kami bukan hanya mendeteksi ancaman sosial, tetapi juga memastikan masyarakat tetap berdiri tegak di tengah krisis. Air adalah hak dasar. Dan kami wajib hadir untuk itu,” ujar Pujiyanto disela sela dropping air pada Jumat (18/9/2026)
Kampus mengajarkan teori. Sastra mengajarkan rasa. Tapi patriotisme mengajarkan tindakan.
Hal itu dirasakan betul oleh Sayem (55), warga Ngrandu. Dengan tangan bergetar memegang selang, ia tak kuasa menahan haru.
“Sangat berterima kasih kepada FKDM Kabupaten Grobogan. Bantuan air bersih ini sangat berarti bagi kami. Sudah berbulan-bulan kami kesulitan air,” tuturnya lirih, namun penuh makna.
Di tengah kemarau yang menguji, FKDM Grobogan telah menulis satu bab kecil dalam buku besar ke-Indonesia-an: bahwa negara yang besar bukanlah yang megah gedungnya, melainkan yang tak pernah lupa mengisi ember-ember kosong rakyatnya.
FKDM Grobogan membagi wilayah pembinaan menjadi 3 bagian yakni Grobogan Timur, Tengah dan Barat.
Setiap wilayah mendapatkan 2 tangki air bersih.
Dari Kradenan hingga Gubug, dari Retakan Tanah hingga Harapan yang Tumbuh. Inilah Bakti, Inilah Grobogan.
(jk)
