Efek “Deschooling” Masa Pandemi

CATATAN

Catatan: Fitriyatu Wahyuni

Pembelajaran di masa pandemi saat ini, sesuai dengan pendapat sosiolog berkebangsaan Austria, Ivan Illich yang terkenal dengan pemikiran pendidikan kritisnya, yaitu Deschooling Society. Dalam bukunya itu, dia ingin mewujudkan sebuah kondisi masyarakat yang hidup tanpa keberadaan sekolah (formal).

PANDEMI Covid-19 yang sudah lebih dari satu tahun lamanya, membuat banyak kalangan terpesona dengan digital. Digital menjadi makanan sehari-hari bagi semua orang. Tidak pandang bulu dia anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua.

Masa saat ini serba online, hingga hampir semua orang yang punya perangkat digital/gawai (gadget) dipermudah dalam semua hal. Baik bekerja, bersekolah, komunikasi, dan masih banyak hal lagi.

Era digital pandemi ini merupakan zaman di mana semua orang menggunakan digital di setiap hal atau kegiatan yang mereka lakukan. Zaman milenial saat ini, digital menjadi hal terpenting yang harus ada di lingkungan kita. Terlebih di kalangan pendidikan, digital menjadi hal yang sangat penting untuk melancarkan pembelajaran pada masa pandemi ini.

Online atau daring sudah sangat mendunia bagi kalangan pendidikan. Semua pelajaran dan pembelajaran dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pembelajaran di masa pandemi saat ini, sesuai dengan pendapat sosiolog berkebangsaan Austria, Ivan Illich yang terkenal dengan pemikiran pendidikan kritisnya, yaitu Deschooling Society. Dalam bukunya itu, dia ingin mewujudkan sebuah kondisi masyarakat yang hidup tanpa keberadaan sekolah (formal).

Dulu sangat susah memisahkan belajar dengan institusi sekolah. Namun di masa pandemi ini, pemikiran Ivan Illich seakan terwujudkan dengan adanya pembelajaran daring atau PJJ: pembelajaran tidak dilakukan di sekolah atau sejenisnya, tanpa pengawasan langsung dari guru ataupun dosen.

Ivan Illich juga mengemukan tentang pembelajaran yang ideal, yaitu learning web, suatu metode pendidikan dengan mencari teman belajar yang cocok dan bisa berbagi ilmu kapan saja. Sistem peer-matching (pencari partner), di mana seorang siswa dapat memasukkan nama, lokasi, dan deskripsi tentang kegiatan belajarnya yang sedang membutuhkan belajar. Sistem tersebut lalu memberikan nama dan alamat siswa lain yang juga memasukkan deskripsi (Illich, 1972: 34) .

Namun, PJJ ini mengharuskan siswa ataupun orang tua memiliki gawai untuk bisa tetap bersekolah. Hal ini yang menjadi kendala orang tua saat ini. Sebab, pandemi yang sudah berlarut, bukan hanya berdampak pada dunia pendidikan, tapi juga ekonomi masyarakat yang sangat menurun. Di sisi lain, kebutuhan justru semakin bertambah. Baik kebutuhan setiap hari, kebutuhan bersekolah, dan masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Kebimbangan Orangtua Menjadi-jadi
Di era ini, banyak orangtua yang bimbang untuk mendaftarkan sekolah anaknya, karena banyak faktor yang membuat sulitnya untuk bersekolah. Salah satunya pembelajaran daring, membuat orangtua agak kesulitan, utamanya dalam penggunaan gawai. Terlebih bagi orangtua yang tidak mengenal digital dan pada tingkat anak TK atau SD yang belum sepantasnya untuk memiliki gawai.

Banyak anak di zaman sekarang yang kurang pas dalam memanfaatkan gawai. Bahkan bukan hanya anak saja, hampir semua orang kurang adanya kesadaran untuk memanfaatkan gawai sebaik mungkin.

Zaman milenial seperti saat ini, anak-anak seumuran TK dan SD sudah mahir menggunakan gadget. Kemahiran anak-anak ini, karena setiap harinya selalu meluangkan waktu belajar dengan gadget. Berbeda dari anak-anak zaman dulu, yang masih banyak mengenal permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali, masak-masakan, dadu, bekelan, dan masih banyak permainan lainnya.

Sementara anak zaman sekarang bermain dengan game-game di gadget yang membuat mereka kecanduan. Sampai orangtua susah untuk mengendalikan anak, apalagi orangtua yang sibuk dengan pekerjaan.

Biasanya orangtua yang sibuk hanya memfasilitasi anak-anaknya dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan anak saat ini. Tapi tidak ada kesadaran untuk memantau anak-anak dalam penggunaan gadget.

Dari hal itu, kebimbangan orangtua pun menjadi-jadi. Terkadang orangtua berpikir untuk menunda bersekolah, dengan menunggu masa pandemi usai. Padahal pandemi tak juga diketahui kapan usai.

Ketakutan orangtua saat ini selalu bertambah, dari takut anak yang bisa kecanduan dengan digital, takut masa depan anak tidak sesuai dengan yang diharapkan, takut ketika bersekolah daring berdampak buruk bagi anak, dan sebagainya.

Semua itu, menjadi PR bagi para pendidik untuk bisa meluruskan kebimbangan orangtua, untuk tetap menyekolahkan anak walaupun di era digital pandemi ini. Karena sejatinya belajar itu bisa dilakukan di mana pun berada.

Dari masa pandemi ini, kita diajarkan untuk menerapkan hal itu. Belajar bisa dilakukan di mana pun dan dalam keadaan apapun.

Ivan Illich berpendapat, untuk memperoleh hasil belajar melalui tumbuh di sekililing orang-orang yang memunyai keterampilan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan contoh. Jadi, dengan tidak adanya pembelajaran langsung dari guru ataupun dosen, anak bisa melakukan dengan orang-orang sekeliling sebagai pedoman pembelajaran.

Kita juga bisa memanfaatkan digital sebaik mungkin untuk tetap menyukseskan pembelajaran daring saat ini. Khususnya bagi orangtua, harus tetap memantau anak-anak dalam menggunakan gadget. Karena banyak hal yang bisa ditemukan di gadget masing-masing. Dari hal yang sepele sampai yang bisa merusak pikiran anak-anak.

Dari itu, berarti harus ada kerja sama antara pendidik maupun orangtua agar anak tidak terjerumus dengan hal-hal yang tidak diinginkan.

Deschooling Society
Secara sederhana, deschooling adalah sebuah periode transisi dari proses belajar di sekolah (yang sangat terstruktur) dengan proses belajar di homeschooling (yang kurang terstruktur).

Pemikiran restorasi pendidikan Ivan Illich tertuang dalam bukunya yang kontroversial, “Deschooling Society” (Masyarakat tanpa Sekolah). Sekolah di mata Illich tak ubahnya ibarat jalan tol. Mereka yang mampu membayar akan dengan leluasa menikmati pendidikan di sekolahnya. Bagi mereka yang tidak mampu membayar, tidak memunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah.

Padahal tujuan dari pendidikan, menurut Ivan Illic, adalh suatu sistem pendidikan yang baik dan harus memunyai tiga tujuan (Illich, 1972:48), yaitu: (1) memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat, (2) memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dapat dengan mudah melakukannya, demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya, (3) menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan.

Dari ulasan descholling, menurut Ivan Illich, menjadikan pertimbangan bagi kita untuk tidak ada rasa kebimbangan dalam melakukan PJJ atau sering disebut dengan pembelajaran daring.

Deschooling bisa menjadi jalan keluar untuk tetap menyekolahkan anak walapun dalam masa pandemi.

Hal positif dari adanya deschooling ini dapat meningkatkan kesadaran kita untuk bisa memanfaatkan fasilitas yang kita punya saat ini, terutama di era digital ini.

Dengan adanya PJJ, juga membangkitkan kita untuk tetap bersemangat dalam belajar, karena kita bisa belajar di mana pun kita berada dan tidak ada batasan waktu untuk kita belajar.

Efek utama dari deschooling ini adalah menjadikan kecanduan anak dengan gadget. Mengapa seperti itu?

Karena masih banyak anak-anak di sekitar kita yang belum bisa memanfaatkan gadget dengan sebaik mungkin. Karena dengan pembelajaran deschooling ini menjadikan anak harus selalu mengunakan gadget di mana pun mereka berada, karena ketika anak kecil seumuran TK dan SD masih belum mengetahui pasti apa gunanya dari bersekolah menggunakan gadget.

Bahkan anak SMP/sederajat dan SMA/sederajat, masih banyak yang berpikir menggunakan gadget adalah membantu mereka dalam mengumpulkan tugas atau karena dalam masa pandemi.

Penggunaan gadget bukan hanya untuk hal seperti tadi, melainkan dapat mempermudah untuk:

Pertama, dapat membuka kesempatan belajar online (daring), karena di masa pandemi ini mengajarkan kita untuk bisa mengoperasikan berbagai macam aplikasi untuk mempermudah kita dalam pembelajaran daring.

Kedua, dapat membangun relasi positif bagi anak antarsesama usianya, dengan berbagai daerah, bahkan sampai luar negeri. Dengan begitu, tingkat pergaulan anak bisa lebih luas dan bukan hanya di seputar lingkungannya saja.

Ketiga, dengan adanya internet, anak juga bisa mempermudah untuk mendapatkan berbagai pengetahuan.

Keempat dapat membuka peluang anak untuk membuat konten-konten yang menarik dan bermanfaat.

Terakhir, menjadikan anak bisa menggunakan digital dengan baik sejak dini.

Mengatasi Kebimbangan Orangtua
Kebimbangan para orangtua saat ini sangatlah bisa dimaklumi. Kebimbangan terhadap gadget juga bisa diatasi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebimbangan orangtua, antara lain:

Pertama, mendampingi anak saat bermain gadget. Dengan adanya dampingan dari orangtua, anak bisa handle dalam bermain gadget. Orangtua bisa membuat jadwal atau jam-jam tertentu untuk bermain gadget, belajar, dan bermain atau yang lain.

Ketika tidak bisa untuk mendampingi anak, orangtua bisa meminta tolong dengan orang-orang di sekitar yang memang bisa dipercaya.

Kedua, bisa dengan mengalihkan perhatian anak dari gadget. Misalnya, anak bisa diajak bermain dengan barang-barang yang mereka senangi, seperti bermain mobil-mobilan, dadu, ular tangga, dan sejenis mainan unik di zaman sekarang. Dengan adanya pengalihan perhatian anak, mereka bisa mengurangi kecanduan dari gadget.

Ketiga, dengan membatasi akses penggunaan gadget. Mengapa seperti itu? Karena ketika pengaksesan gadget orangtua atau orang-orang di sekitar anak tidak dibatasi, akan menyebabkan hal yang tidak diinginkan. Misalnya, anak bisa dengan leluasa mengakses video, gambar, atau sejenisnya yang tidak sepantasnya untuk dilihat oleh anak.

Ketika hal tersebut terjadi, maka orangtualah yang sangat penting untuk selalu mengawasi anak-anaknya. Karena pada zaman ini, banyak pengaksesan yang menyalahi batas wajar, seperti mudahnya untuk mengakses video-video purno yang saat ini sudah mendunia, bahkan menjadi hal yang sangat biasa.

Demikian pemikiran saya dalam menangani atau mengurangi kecanduan gadget pada anak. Kesadaran orangtua harus ditekankan, agar anak-anak bisa tetap menjadi generasi penerus yang diimpikan bangsa.

Terpenting adalah pendampingan orangtua kepada anak, agar mereka tidak terus-terusan memainkan gadget dengan semau mereka.

Karena kesuksesan anak-anak berakar dari orangtua yang bisa mengarahkan mereka dengan kesuksesan juga.***

*) Fitriyatu Wahyuni, adalah Mahasiswi Program Studi (Prodi) Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.
Bagikan ke:

13 thoughts on “Efek “Deschooling” Masa Pandemi

  1. I am extremely inspired with your writing skills as smartly as with the layout to your weblog. Is this a paid subject matter or did you modify it yourself? Anyway stay up the nice quality writing, it is uncommon to look a great blog like this one these days..

  2. Virtually all of the things you say is supprisingly precise and that makes me wonder the reason why I hadn’t looked at this with this light before. This article truly did switch the light on for me as far as this specific issue goes. Nonetheless at this time there is one particular point I am not really too comfy with and while I attempt to reconcile that with the actual main idea of the issue, permit me see what the rest of the subscribers have to say.Very well done.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *