Sragen-Inspirasiline.com. pesatnya peningkatan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Bumi Sukowati membuat Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati menginginkan seluruh Pasar Hewan di Jawa Tengah (Jateng) ditutup sementara.
Keinginan itu disampaikan kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melalui Surat yang isinya memohon Pasar Hewan di Jateng ditutup sementara. Selain itu Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati juga meminta pengawasan lalu lintas ternak lintas provinsi digencarkan.
Seperti diketahui, kasus PMK di Sragen per Kamis (2/6/2022) mencapai 174 dari 95 kasus sehari sebelumnya. Sebanyak 16 dari 20 Kecamatan di Kabupaten Sragen masuk zona merah PMK.
Untuk mengatasi hal tersebut Orang Nomor 1 di Bumi Sukowati ini mengaku telah menyiapkan empat strategi.

“Kasus PMK terus bertambah. Kami sudah membahas penanganan PMK itu dalam rapat terbatas dan memerintahkan Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) menjadi koordinator dalam penanganan PMK secara komprehensif,” Ungkapnya saat dihubungi Inspirasiline.com melalui phoneselnya Sabtu (4/6/2022)
“Kami menyiapkan empat langkah strategi dalam penanganan PMK dan sekaligus berkirim surat ke Pak Gubernur yang memiliki wewenang pengawasan lalu lintas ternak.”Ungkapnya
Yuni sapaan akrab Bupati Sragen inj menerangkan sejauh ini penanganan PMK oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen masih bersifat parsial. Perlu ada pemetaan kasus PMK di Kabupaten Sragen untuk penanganan yang lebih komprehensif.
“Nantinya sapi dari luar yang mau masuk Sragen wajib punya Surat Keterangan Kesehatan hewan (SKKH).Kendalanya, wewenang pembatasan lalu lintas ternak itu ada di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng). Kalau mau menutup seluruh pasar hewan dan seluruh akses masuk ternak itu menjadi wewenang Pemprov Jateng, maka kami berkirim surat ke Gubernur untuk meminta solusi atas hal itu,” Ungkap Yuni menjelaskan
Yuni menilai lalu lintas ternak menjadi tanggung jawab provinsi. Penutupan pasar hewan kalau hanya dilakukan di satu kabupaten tidak efektif.
Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati sudah menyiapkan 4 Strategi pertama Penutupan Pasar Hewan dilakukan serentak di semua kabupaten. Kedua, sapi peternak yang masuk zona merah kasus PMK dipantau ketat dengan menggerakan penyuluh pertanian. Sosialisasi terus digerakkan secara masif sampai di tingkat Rukun Tetangga (RT) dan ada gerakan penyemprotan disinfektan secara serentak pada pekan depan.
Sejauh ini Disnakan sudah mulai menyemprotkan disinfektan tetapi masih parsial sehingga perlu ada gerakan massal yang digawangi Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ketiga, pemeriksaan sapi dan ternak lain yang boleh jadi hewan kurban menjelang perayaan Idul Adha. Keempat, terkait dengan manajemen Pasar Hewan yang harus diubah.
“Sapi di Desa-Desa untuk didata terlebih dulu oleh Bayan, kemudian dilaporkan secara berjenjang. Nah, sapi yang terinfeksi dikarantina dan diobati. Saya minta Jumat depan ada gerakan penyemprotan disinfektan serentak ke tempat-tempat yang sudah teridentifikasi. Untuk jumlah disinfektan dan sebagainya akan disiapkan Senin,” Ungkap Yuni menjelaskan
Dikatakan, setiap hewan yang masuk pasar betul-betul diperiksa dan dipastikan kesehatannya. Bila ada hewan yang terindikasi sakit maka tidak boleh masuk pasar hewan.
“Saya minta ada formula yang tepat untuk empat problem tersebut. Kebijakan penutupan pasar selama 14 hari pun dievaluasi tentang efektivitasnya. Kalau Sragen menutup pasar sendirian itu ya ironis. Sapi-sapi yang ada di bakul yang tidak dilaporkan juga jadi persoalan, sehingga harus ditelusur betul,” Tuturnya. ( Sugimin/17)
