Pedagang Tolak Divaksin Covid-19, Bupati Sragen Yuni Sukowati Tak Ambil Pusing

NEWS

Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com 

BUPATI Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati tidak mau ambil pusing dengan pedagang yang tidak mau divaksin Covid-19. Bupati akan memfokuskan kepada pedagang yang mau saja.

Yuni, panggilan akrab Bupati Sragen menyampaikan, akan membiarkan pedagang yang tidak mau divaksin. Sebaliknya, pihaknya memilih akan fokus pada vaksinasi kepada komponen-komponen lainnya yang nanti akan menerima vaksin tahap selanjutnya.

“Pedagang yang menolak dengan berbagai alasan, yang tidak mau vaksin ya kita tinggal dulu. Sampai nanti tiba terakhir vaksin, baru kita lakukan ketegasan. Sekarang masih banyak komponen-komponen lain, kita kejar saja terlebih dulu yang mau. Kalau tidak mau ya sudah,” ungkap Yuni, menyikapi penolakan dari sedikitnya 900 pedagang di Pasar Gemolong dan 1.737 pedagang di Pasar Bunder Sragen.

SUASANA Pasar Bunder Sragen, yang sebagian pedagangnya menolak divaksin Covid-19.

Para pedagang itu menolak mengikuti vaksinasi Covid-19 tahap kedua yang direncanakan digelar mulai Senin (22/2/2021).

Mereka beralasan ketakutan dan masih bimbang, sehingga memutuskan memilih tidak ikut vaksinasi dulu.

Data yang dihimpun inspirasiline.com, untuk Pasar Gemolong 129 orang dan Pasar Bunder 263 pedagang yang mau divaksin Covid-19 hari ini, Senin (22/2/2021).

Sedangkan 900-an lainnya menolak mengikuti vaksinasi, karena berbagai alasan, yang mayoritas masih takut dan samar (ragu) dengan suntikan vaksin Covid-19.

“Dapat 129 pedagang yang siap divaksin. Yang 900-an memang masih menolak. Maksudnya, menolak karena masih pada samar dan takut. Rata-rata alasannya biar bapak-bapak TNI dan Polri serta petugas pasar dulu. Mereka belakangan ajai, gitu katanya,” ujar Lurah Pasar Gemolong Harjono, seraya menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan pedagang di Pasar Gemolong tercatat 1.029 orang.

Senada, Lurah Pasar Bunder Sragen Sugino menyebutkan, pedagang yang siap divaksin hanya 263 orang dari seluruh yang tercatat 2.000 pedagang.

baca juga:  Satu Pasien Suspek Covid-19 Meninggal Dunia di RS Kasih Ibu Solo

Baik Harjono maupun Sugiono mengatakan, sebenarnya sosialisasi sudah dilakukan ke pedagang. Namun dari tiga hari waktu yang diberikan, hanya dua hari efektif saja yang bisa dilakukan dan sehari libur, sehingga belum semua pedagang bisa mendapatkan sosialisasi secara intensif.

Pihaknya juga sudah menjelaskan bahwa vaksinasi adalah program nasional pemerintah, dengan tujuan meningkatkan kekebalan dan mencegah penyebaran Covid-19.

“Tapi mereka masih pada samar. Sudah kami sampaikan. Tapi ya mau gimana lagi. Makanya kami akan terus sosialisasi. Sebagian juga milih, katanya akan ikut program di desa saja,” ujar Harjono.

Harjono menjelaskan, sudah mendapat informasi dari Puskesmas bahwa penyuntikan vaksin Covid-19 akan dilakukan di lokasi pasar masing-masing.

Menurutnya, hal itu bagus untuk memberikan pemahaman sekaligus menunjukkan ke pedagang yang lain bahwa vaksinasi aman, sehingga mereka yang belum mau, bisa secara sadar tergerak untuk berubah pikiran.

“Lambat laun nanti juga mereka akan mau. Mereka hanya butuh waktu dan pemahaman saja,” ungkapnya.***

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *