Penulis: Sugimin
SRAGEN | inspirasiline.com
OBYEK Wisata Pangeran Samodro yang lebih dikenal dengan Gunung Kemukus di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen walau sudah ditutup untuk prostitusi dan dicanangkan menjadi wisata religi The New Kemukus, ternyata belum sepenuhnya bersih dari kehadiran pekerja seks komersial (PSK).
Para wanita penjaja jasa syahwat itu diam-diam masih bersemayam di sekitaran komplek obyek wisata di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen itu.


Namun keberadaan mereka tak lagi terang-terangan seperti sebelum ditutup oleh Pemprov pada 2014 silam. Saat ini mereka beradaptasi dengan tidak vulgar dan menyamar sebagai pengunjung.
“Masih seperti dulu, Mas. Cewek-ceweknya juga masih ada. Jumlahnya antara puluhan, kadang kalau pas malam Jumat, apalagi malam Jumat Pon 100-an orang lebih. Mereka di warung-warung karaoke dan di sekitar komplek. Tapi nggak vulgar, ada juga yang nyamar pakai pakaian tertutup atau kerudung. Silakan bisa dicek,” ujar salah satu warga berinisial BUD kepada inspirasiline.com, di salah satu warung pinggiran komplek Pangeran Samodro, Sabtu (26/12/2020).
BUD menuturkan, mayoritas wanita penjaja syahwat itu berkedok pemandu karaoke. Mereka mangkal hampir tiap hari.
Namun jika Jumat atau hari pasaran ritual, banyak PSK dari luar kota yang juga datang untuk mengais rezeki. Mereka biasanya menyamar sebagai pengunjung, lalu menginap di warung-warung sembari menjajakan jasanya.
“Harapan kami, pemerintah bisa konsisten melakukan penertiban. Kalau sudah ditutup oleh provinsi dan didengungkan untuk wisata religi, mestinya sebisa mungkin hal-hal kayak gitu (PSK) benar-benar dibersihkan,” sambung DI, yang juga tokoh setempat.
Sudah Berkurang
Penanggung Jawab Obyek Wisata Gunung Kemukus Marcellus Suparno yang dikonfirmasi tak menampik bahwa memang masih ada sebagian wanita penjaja syahwat yang nekat beroperasi.

Namun Penanggung Jawab Obyek Wisata tersebut menyakinkan, jumlahnya sudah banyak berkurang dibanding sebelumnya.
“Dengan adanya pembenahan menuju wisata keluarga dan religi, saya optimistis lambat laun keberadaan mereka dengan sendirinya akan terpinggirkan, bahkan hilang sama sekali,” ujarnya.
“Ya tidak bisa dimungkiri, hal-hal kayak gitu susah membersihkan. Butuh waktu dan proses. Karena sekarang agak sulit mendeteksi, mereka sebagian penampilannya sudah kayak pengunjung biasa. Saudari-saudari itu kadang nyamar, memba-memba ikut pengunjung. Mungkin terdesak ekonomi juga,” imbuhnya.
Berbagai upaya juga sudah dan terus dilakukan untuk membersihkan kehadiran PSK dan imej sebagai wisata esek-esek.
Suparno menyebut, pihaknya juga sering berkoordinasi dengan petugas di instansi kesehatan dan sosial untuk memberikan penyuluhan tentang penyakit menular seksual (PMS) serta tentang masa depan agar beralih profesi.
“Ya nggak bisa langsung bersih, Pak. Alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal terlaksana). Tapi kami yakin kalau sudah jadi wisata religi dan keluarga, nanti perlahan mereka akan terpinggirkan. Kalau yang di karaoke-karaoke itu lokasinya sudah di luar kompleks wisata,” tuturnya meyakinkan.***
